LOOKING GLASS SELF
Sebuah konsep yang menekankan bahwa keberadaan seseorang berkembang berdasarkan interaksi dan persepsi orang lain
Di tahun 1902 seorang sosiolog Amerika Charles Horton Cooley memperkenalkan konsep Looking Glass Self Mungkin kita jarang mendengar istilah Looking Glass Self, namun jika kita menggunakan istilah cerminan diri, sepintas kita pasti sudah memahami itu, Looking Glass Self adalah sebuah konsep yang menekankan bahwa keberadaan seseorang berkembang berdasarkan interaksi dan persepsi orang lain. Kalau orang lain berpikir kita hebat, maka begitulah jadinya. Sebaliknya, seseorang juga cenderung percaya pada persepsi orang yang mengatakan bahwa ia bodoh, maka demikianlah ia adanya. Konsep ini disebut ‘looking glass’. karena diri seseorang merupakan pencerminan dari penilaian orang lain, tak ubahnya cermin diri yang kita lihat di gelas, jauh sebelum konsep Looking Glass Self ini muncul Rosulullah telah memaparkan sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim sebagai berikut
“Tidaklah dilahirkan seorang anak melainkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua ibu bapaknyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya atau memajusikannya.” (hadist riwayat muslim).
Fitrah bukanlah sebuah kertas yang kosong tanpa memiliki apapun, namun fitrah di sini adalah sebuah keadaan dimana manusia sebenarnya sudah memiliki sebuah potensi bawaan yaitu,kesucian, sebuah kebaikan yang ada dalam dirinya, dapat diibaratkan bayi yang baru lahir bukanlah sebuah kertas kosong putih, namun sebuah kertas beserta pensil, yang kertas itu sudah memiliki pola namun masih samar yang memerlukan sebuah penggerak pensil untuk menebalkan atau memunculkan potensi tersebut
Dari analogi kertas berpola tersebut nampak sekali bahwa perlu sebuah stimulus dari luar diri anak untuk mewarnai dan menebali pola yang sudah ada dalam diri anak, dan itu adalah peran orangtua yang harus menggerakkan pensil sesuai dengan pola yang dimiliki anak. Sehingga benar hadist tersebut, bahwa orangtuanyalah yang menyahudikannya atau menasranikan atau memajusikannya, sungguh tanggungjawab yang besar.
Tanggungjawab yang besar inilah menuntut orangtua harus memberikan sebuah bayangan cermin kepada anaknya, bahwa dia spesial, hebat cerdas dan sholih, tidak hanya sebatas sebuah contoh dan pemahaman orangtua saja, namun pandangan orangtua/persepsi orang terdekat harus baik terhadap anak, baik dalam keadaan marah maupun tidak, karena sekali lagi, Allah menciptakan manusia dalam keadaan paling baik dan sempurna, sehingga tidak ada anak yang bodoh dan idiot, bodoh dan idiot itu muncul karena ada cap dari orang terdekat yang tidak memiliki kesabaran untuk mendidik.
Bukankah sudah jelas perintah allah untuk selalu berkhusnudhon, karena ada kebaikan dalam khusnudhon tersebut
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Wallahua’lam bishowaab
Penulis
Abdul Rozaq
Konselor SD Al Hikmah
