Tenang, Senang, dan Menang Hadapi Unas
Di sebuah ruangan kelas yang nyaman, tampak beberapa anak asyik bercengkerama sambil sesekali melihat lembar soal try out yang dibawa temannya. Seorang anak sesekali menuliskan coretan-coretan di selembar kertas. Sementara yang lain tekun memerhatikan. Tak begitu jelas yang mereka perbincangkan, tapi pastilah berkaitan dengan Unas SD yang sedang mereka ikuti hari ini. Di SD Al Hikmah, anak-anak memanglah dikelompokkan dalam tutor sebaya. Yaitu kelompok siswa yang bertujuan untuk saling bantu antarsiswa. Anggota yang belum menguasai pelajaran akan dibimbing oleh temannya agar dapat menguasai materi tersebut.
Itulah sepintas suasana pagi hari sebelum dimulainya Unas SD 2015/2016. Seperti yang kita ketahui, ujian ini berlangsung selama tiga hari, yaitu Senin – Rabu, 16 – 18 Mei 2016. Dan disusul Ujian Sekolah mulai Kamis – Senin, 19 – 23 Mei 2016. Urutan pelajaran yang ujikan dalan Unas mulai Senin sampai Rabu adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Sedangkan pelajaran non-Unas meliputi Agama, IPS, Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, PKn, Sni Budaya dan Prakarya, dan Penjaskes.
Selama mengikuti ujian ini, siswa berangkat lebih pagi daripada biasanya. Karena kegiatan di sekolah diawali dengan shalat Dhuha di masjid. Shalat Dhuha tersebut diharapkan mampu menenangkan hati siswa dan meningkatkan motivasi usahanya. Seusai itu siswa masuk ruang ujian masing-masing. Setiap ruangan diisi dua puluh peserta. Semua tas diletakan di luar kelas. Pada pukul 07.10, siswa mulai masuk dan berdoa di kelas bersama Ustad Ustadzah. Mereka diberi motivasi untuk selalu jujur dan gigih berusaha. Pada pukul 07.30, pengawas ruangan memasuki ruang ujian. Pengawas ruangan Unas adalah guru-guru dari sekolah di Kecamatan Gayungan yang ditugaskan untuk mengawasi Unas di sekolah lain. Setiap ruangan 2 orang pengawas. Dan akhirnya, selama dua jam, yaitu pukul 08.00 – 10.00 siswa menguji kemampuannya untuk menaklukkan soal-soal Unas.
Siswa SD Al Hikmah melaksanakan Unas dengan “tenang”, karena mereka telah berlatih bersama Ustad Ustadzah di kelas. Mereka juga diajarkan untuk “senang”, karena hakikat ujian adalah untuk memingkatkan derajat kemuliaan seseorang. Dan mereka diajarkan untuk “menang”, maksudnya melaksanakan ujian dengan sepenuh hati dan kemampuan. Tak boleh ada kata menyerah saat menghadapi soal yang sulit. Mereka harus mampu menakhlukkan tantangan tersebut. (FEN)
